Fruity Peach Heart -*- Nailiz Menulis -*-: AZMI DI PAGI INI
Inspirasi Nailiz

Hari ini SMP ku upacara, seperti biasa jika ada upacara aku dapat bagian untuk menjadi petugas UKS. Di UKS aku ditemani Azmi, anak kelas VIII E yang langganan masuk UKS, jadi anak itu sekarang direkomendasikan untuk langsung ke UKS saja. Dia punya penyakit lambung yang kronis dan kata dr. Sofa (dokter di Puskesmas Tondano yang pernah memeriksa Azmi), dia juga punya penyakit psikis.
Hari ini adalah Senin yang kedua kalinya aku mengajak Azmi ke UKS, dia anaknya lugu dan lucu. Hari ini dia agak batuk.


“Azmi sudah sarapan?” sambil jalan menuju UKS aku menanyakan itu.
“sudah” jawaban dia singkat
“pake lauk apa?” tanyaku kembali walaupun terkesan basa basi
“Nasi Megono (khas Kota Pekalongan) dan tempe” jawabnya sambil senyum
“wah enak sekali lauknya, aku malahan belum sarapan” obrolanku untuk mencairkan keadaan sambil membuka pintu UKS.
Di dalam UKS tingkahnya unik, seperti anak kecil yang masuk ruang asing yang tidak pernah ia kenal, diam. Membuka tirai jendela yang ia lakukan atas seijinku kemudian kembali diam.
“Aku beli susu tapi cuma satu, enggak papa ya aku minum sendiri” dia hanya menjawab dengan senyum.
Dari balik jendela dia melihat teman-temannya yang sedang mengikuti upacara, lama ia pandang kemudian kembali duduk di bawah jendela. Tempat dimana ia selalu duduk jika ia masuk ke UKS saat upacara.
Upacara hampir selesai, ada dua anak perempuan menuju UKS didampingi Pak Zainudin (BP kelas IX), satu anak mukanya ditutup dengan kerudung putihnya, yang terlihat hanya matanya saja, satunya lagi mukanya pucat dan berkeringat. Setelah masuk UKS, Pak Zainudin pergi.
Azmi langsung mengambil buku skrining UKS, dalam hati aku tertawa sendiri. Bukannya ditanya apa yang dirasakan dulu malahan ambil buku, hahaha. Tapi enggak papa, aku seneng dia sudah bisa tanggap. Setelah selesai mengondisikan dua anak itu, Azmi berdiri mengintip di pintu. Aku disebelahnya mengamati upacara berlangsung. Waktu ada aba-aba ‘kepada pembina upacara, hormat grak!’ respon Azmi mengangkat tangan mengikuti aba-aba yang diberikan pemimpin upacara, padahal tangan yang satunya masih memegang daun jendela sebelah pintu. Tertawa geli tapi tidak bisa aku ungkapkan hanya dalam hati saja.
Azmi anak baik, dia anak lucu dan dia juga punya jiwa sosial yang tinggi. Tapi sayang, orang di lingkungan keluarganya kurang mendukung untuk ia berkembang. Mereka hanya melakukan rutinitas saja tanpa memberikan kasih sayang dan perhatian yang pantas diberikan untuk Azmi. Tapi aku suka Azmi, ia sudah mulai bisa jujur dan mau bercerita denganku walau aku harus bertanya dulu.

0 Responses

Posting Komentar